"Alhamdulillah, Suamiku Mati Syahid..." Temubual UMMU MUHAMMAD...

Sahabat-sahabat yang dikasihi, ketika ini isteri Assyahid Izzuddin Khalil (yang dikenali sebagai Ummu Muhammad) bersama tiga orang anaknya masih berada di Malaysia dalam rangka berkongsi pengalaman tentang kehidupannya menjadi isteri kepada seorang syuhada' dalam mempertahankan bumi Palestin. Banyak bahan tarbiyah yang dapat kita pelajari dan banyak perkara aneh yang berlaku sebelum kesyahidannya . Artikel ini saya ambil hasil temubual hidayatullah.com dengan Ummu Muhammad

Sebuah kisah yang ditulis dari penuturan isteri seorang Mujahid Palestin yang dibunuh musuh dengan meledakkan keretanya, hampir enam tahun yang silam


Oleh : Muhammad ‘Isa, Ahmad dan Maulana

Hidayatullah.com--Kisah hidup dan kematian seorang syahid selalu ajaib. Mungkin karena orang-orang yang merindukan mati syahid selalu hidup dengan cara yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan.


Asy-Syahid ‘Izzuddin Khalil adalah salah satu komandan Brigade Al-Qassam, sayap tentera Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah) yang bermukim di Damsyik, Syria . Hamas merupakan organisasi terbesar yang menghimpun berbagai kekuatan rakyat Palestin yang berjuang demi kemerdekaan tanah waqaf milik umat Islam sedunia itu, serta pembebasan Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam dan terminal Rasulullah Saw ketika melakukan isra' dan mi'raj.


Kisah ini merupakan hasil temubual dengan Feryal Ahmed Nemr Zienou, 35 tahun, istri Asy-Syahid ‘Izzuddin Khalil yang ditemui Hidayatullah.com di Damsyik


‘Izzuddin merupakan salah satu pengawal pertama Syeikh Ahmad Yasin dan ikut serta dalam menubuhkan Hamas tahun 1986-87.
Penglibatannya dengan Hamas dan sayap tentera Al-Qassam menjadi suatu rahsia seminggu selepas mereka menikah, barulah Feryal mengetahui kalau suaminya seorang komandan Al-Qassam.



Nama lengkapnya ‘Izzuddin Syubhi Al-Syeikh Khalil, lahir di Gaza, 23 Agustus 1962, menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat master di bidang Ushuluddin di Universiti Islam Gaza. Pekerjaan sehari-harinya ketika menikah dengan Feryal berdagang buku. Menurut Feryal, sama sekali tidak terlihat penampilannya sebagai seorang tentera.


Barangkali karena pengalamannya di usia belia pernah berjihad di Afghanistan, ‘Izzuddin ditugaskan oleh para pemimpin Hamas untuk mengumpulkan, membina dan melatih para pemuda Muslim di seluruh Palestin, baik di Gaza, Tepi Barat, maupun seluruh kawasan Palestin yang sepenuhnya dijajah Israel. Tujuannya untuk menjadikan para pemuda itu Mujahidin pembela tanah suci para Nabi dan Masjidil Aqsha.


Rahsia Pengantin


Feryal sendiri waktu itu seorang gadis dari sebuah keluarga yang taat menjalankan syariat Islam. Salah satu hasrat di hatinya adalah keinginan untuk kelak menikah dengan seorang Mujahid fii Sabilillah.
Namun ketika menerima lamaran ‘Izzuddin, Feryal mengaku . dia sama sekali tidak tahu kehidupan Jihad laki-laki yang melamarnya itu. Bila ditanya “Kenapa anda menerima lamaran padahal belum jelas ‘Izzuddin seorang Mujahid atau bukan?” Perempuan yang murah senyum itu menjawab, di Gaza, waktu itu, kalau ada orang laki-laki yang rajin ke masjid, berakhlak baik, berilmu agama mendalam, berpenampilan rapi dan menjaga pergaulannya sesuai syariat Islam, hampir bisa dipastikan bahwa dia seorang Mujahid.
“Tapi saya sama sekali tidak mengira kalau dia seorang komandan dan sangat dekat dengan Panglima Para Mujahidin Palestin , Syeikh Ahmad Yasin,” tegasnya sambil tersenyum lebar.




Feryal mulai mencium sesuatu yang mengherankan sejak hari pertama pernikahan. Setiap kali pergi shalat subuh berjama’ah di masjid, ‘Izzuddin selalu pulang terlambat, yaitu ketika matahari sudah sepenggal naik, sekitar waktu dhuha. Feryal tak tahan untuk bertanya. Maka dijelaskanlah oleh ‘Izzuddin, bahwa sesudah shalat shubuh ia bertugas keliling membina para pemuda di berbagai tempat, baik pembinaan ruhiyah, keilmuan, maupun ketenteraan.


Betapa gembiranya Feryal mendengar penjelasan itu. Pengantin baru yang usianya lebih muda 13 tahun dari suaminya itu merasa Allah mengabulkan doanya selama ini, agar dinikahkan dengan seorang Mujahid. Namun rahasia itu tetap terjaga rapat diantara mereka berdua. Baru setahun kemudian, keluarga Feryal pelan-pelan mengetahui kenyataan bahwa ‘Izzuddin seorang Mujahid dengan amanah yang penting.


Terbukanya rahasia itu adalah ketika pada tahun 1992, ‘Izzuddin ikut ditangkap dan dibuang selama setahun oleh Zionis Israel ke Marj Az-Zuhur, sebuah kawasan bukit yang tidak bertuan di perbatasan Lebanon dan Palestin, bersama 413 orang pemimpin Jihad lainnya seperti Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi. Selama setahun mereka tinggal di kemah-kemah darurat di lereng-lereng bukit. Musim dingin berselimutkan salji , musim panas dipanggang matahari.
Sejak Feryal mengetahui kedudukan suaminya sebagai komandan Jihad, setiap hari, setiap shalat fardhu sampai syahidnya ‘Izzuddin , atas permintaan suaminya itu, Feryal mendoakan agar suaminya dianugerahi Allah mati syahid di Jalan Allah.


Bagi Feryal, ‘Izzuddin adalah seorang suami, sahabat, sekaligus ayah bagi anak-anaknya yang selalu jujur dan ikhlas. “Berat,” demikian kata Feryal, ketika ditanya bagaimana perasaannya setiap kali berdoa agar suaminya mati syahid,


“tapi di saat yang sama saya yakin Allah akan mengganti cinta yang saya persembahkan kepada-Nya ini dengan sesuatu yang lebih hebat.” Janji-janji Allah untuk kemuliaan syahid seakan-akan nampak nyata di depan matanya saat berdoa.


Tentu ada yang bertanya, kenapa tidak berdoa agar dimatikan syahid bersama-sama? Jawaban Feryal jelas dan mantap, “Karena, jika suami saya syahid, lalu saya tetap istiqamah menjalankan amanah-amanah yang tertinggal, termasuk membesarkan anak-anak, maka Allah menjanjikan kemuliaan yang lebih besar lagi bagi kami sekeluarga.”


Dua Isyarat


Sesudah ‘Izzuddin syahid, hidup terasa lebih berat bagi Feryal karena seluruh keluarga dari pihaknya dan pihak suaminya ada di Gaza, sedangkan dirinya di Damsyik yang terpisah oleh jarak ratusan kilometer dan blokade militer.
Namun ada dua kenangan manis sebelum ‘Izzuddin mati syahid, yang selalu membuatnya bangkit lagi semangatnya.
Yang pertama, kira-kira satu bulan sebelum syahidnya ‘Izzuddin, mereka bekunjung ke rumah seorang sahabat dalam sebuah acara silaturrahim. Sebagaimana seharusnya, Feryal bercengkerama dengan teman-temannya sesama Muslimah di sebuah ruangan, dan ‘Izzuddin dengan teman-teman Muslimnya di ruangan lain.


Dalam suatu kesempatan, Feryal berjalan melewati pintu ruangan laki-laki dan sekelebat menyaksikan pemandangan yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Dia melihat di kening suaminya tertulis kata-kata dalam khat Arab, “Asy-Syahid” (Sang Syahid).


Tatkala penglihatannya itu ia sampaikan kepada ‘Izzuddin dalam perjalanan pulang, serta-merta suaminya meminggirkan mobil yang sedang dikemudikannya, lalu turun dan berdiri di samping mobilnya, menengadahkan tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, taqdirkanlah penglihatan istriku itu atas diriku.”
Sudah sewajarnya, Feryal bertanya kepada ‘Izzuddin, “Kalau kamu syahid, kami bagaimana?” Dijawab oleh ‘Izzuddin, “Ada Allah, dan Allah lebih baik dari saya.”


Peristiwa kedua yang tak akan pernah dilupakannya, terjadi hanya beberapa menit sebelum syahidnya sang Kekasih. Hari itu Ahad, 26 September 2004. Feryal tengah sibuk menyiapkan sarapan bagi suaminya yang akan berangkat kerja. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk. Seorang perempuan, tetangga, mampir membicarakan hal-hal remeh, tapi di ujung pembicaraan yang hanya sebentar itu, si Tetangga bertanya, “Saudariku, kamu menyembur apa didalam rumah,? Dari tadi kami mencium bauan yang sangat wangi , tercium sampai ke rumah kami...”


Feryal memang selalu mengusapkan wewangian sebelum suaminya berangkat dari rumah, tetapi pagi itu dia ingat betul belum melakukannya. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa wewangian itu adalah sambutan bagi syahidnya Si Suaminya beberapa menit kemudian.


Sesudah jiran itu berlalu, Feryal kembali menyiapkan meja makan. Sarapan khas negeri Syam, khubz (roti lebar), minyak zaitun, za’thar (serbuk rempah-rempah dan biji wijen), humus (selai kacang berbumbu), keju dan secangkir teh kental manis. Suaminya hampir tidak menyentuh makanan, lalu berkata bahwa dia sedang terburu-buru sambil minta tolong diambilkan pasport, untuk mengurus perjalanan umrahnya.


Suaminya pergi. Pintu rumah ditutup. Kurang lebih dua menit berlalu, ketika tiba-tiba Feryal mendengar suara letupan yang kuat. Dinding apartemennya bergetar. Dinding ruang kelas sekolah kedua anaknya yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya juga bergetar. Anak-anak mereka, Hiba, waktu itu berusia 10 tahun, dan Muhammad, waktu itu berusia 7 tahun, keduanya mengaku mendengar ledakan itu dari sekolahnya. Hadil baru berusia 2,5 tahun bersama ibunya di rumah.


Di dada Feryal langsung berdesir, “Pasti itu ‘Izzuddin...” Ia berlari ke jendela apartemen yang terletak di lantai empat, sejurus disingkapnya tirai, disaksikannya jip Pajero berwarna silver tahun 1995 milik suaminya sudah hancur dan masih mengobarkan api.


Tidak Menangis


Ibu tiga anak berusia 29 tahun itu tidak menangis. Ia segera mengenakan hijabnya dan berpakaian serapi mungkin menutup aurat, sebelum kemudian meluncur turun ke tempat kejadian. Setelah memastikan bahwa suaminya telah syahid, Feryal naik lagi ke atas, menelepon istri seorang pemimpin Hamas, Dr Musa Abu Marzuq, Wakil Kepala Biro Politik. Setelah memberi kabar tentang apa yang terjadi atas suaminya dan menjelaskan lokasi rumah mereka, Feryal mematikan telepon.


Kemudian ia berwudhu dan melaksanakan shalat dua raka’at. Ia memanjatkan doa agar syahid suaminya diterima oleh Allah dan bersyukur Allah telah memilih suaminya sebagai salah satu lelaki terbaik.
Ketika ditanya, apa yang dirasakannya saat itu, Feryal menjawab dengan tersenyum, “Hati saya seperti diiris-iris, sakit, tetapi pada saat yang sama saya merasa sangat berbahagia karena doa saya setiap hari dikabulkan oleh Allah.”


Seorang saksi mengatakan, ‘Izzuddin sempat memundurkan keretanya itu sebelum meledak. Para penyeledik Hamas mengatakan, kereta itu diletupkan dengan bom yang menggunakan remote control.
Seselesainya dari shalat, Feryal menyiapkan diri dan rumahnya untuk kedatangan para tamu yang sebentar lagi pasti akan ramai. Banyak diantara yang kemudian datang menangis. Bahkan salah seorang teman perempuannya menangis sampai jatuh-jatuh. “Saya beritahu kepada mereka, jangan menangis, saya tidak menangis karena ini keberuntungan saya dan keluarga saya,” katanya.


Ketika menerima salam dari ratusan tamu itu, Feryal membayangkan malam-malam yang selalu dilewatinya bersama ‘Izzuddin, sepanjang 13 tahun pernikahannya. Sebelum tidur, keduanya selalu saling pandang dan saling bertanya, “Apakah kamu ridha kepada saya?” Keduanya sama-sama saling mengiyakan.
Keridhaan itu kini membias pada ketiga anaknya. Hidayatullah.com menemui keluarga ini di rumah mereka dan meminta mereka bercerita satu per satu tentang kenangan mereka akan ayahnya. Tidak ada air mata. Tidak ada sesenggukan. Tidak ada wajah muram. Yang ada senyum bangga dan wajah yang berbinar penuh keberanian.


“Terkadang,” kata Feryal, “anak-anaknya mengatakan, ‘seandainya ayah bersama kita...’ terutama saat berbuka puasa Ramadhan... Tapi saya bilang, ayah selalu bersama kita, bahkan syahidnya ayah memastikan kita akan selalu bersama ayah dalam keadaan yang lebih baik dari keadaan kita saat ini...” Anak-anak itu tersenyum mendengar penuturan ibunya.
Bahkan di sepanjang pertemuan dan wawancara dengan kami, anak-anak itu selalu tersenyum, seperti anak-anak yang menerima hadiah sangat istimewa yang tiada habis-habisnya. [www.hidayatullah.com]

As-Syahid Dr Abdul Aziz Rantisi : Dalam Kenangan pemimpin HAMAS




Pada 17 April 2004 pulanglah seorang syahid menemui Kekasih yang didambakan. Satu tribute untuk as-Syahid Dr Abdul Aziz Rantisi
Kita sering tercari-cari siapakah di kalangan manusia pada hari ini yang pantas dijadikan contoh ikutan dalam perjuangan menegakkan kalimah al-Haq. Kita mahu mencontohi beliau baik dari sisi istiqamahnya, baik dari segi tsabatnya, baik dari segi jihad, kesungguhan dan pengorbanannya. Nah! Salah seorang dari insan yang pernah memiliki sifat-sifat ini ialah as-Syahid Dr Abdul Aziz Rantisi. Pada 17 April 2004 ini genaplah enam tahun as-Syahid meninggalkan kita semua. Beliau dibedil oleh helicopter Apache Zionis Israel dengan peluru berpandu Hellfire yang juga telah mengambil nyawa as-Syahid Syeikh Ahmad Yassin dua puluh enam hari lebih awal.
Sebelum kakinya melangkah keluar dari rumah kerana menziarahi keluarga selepas waktu isya, beliau dengan hati penuh harap berkata ‘Semuga Engkau masukkan kami ke dalam syurga mu Ya Allah. Inilah puncak harapanku..” Tidak beberapa langkah dia meninggalkan rumah, kedengaranlah bunyi ledakan. Ternyata helicopter Apache telah siap menunggu dan menganugerahkan apa yang didambakan oleh as-Syahid. “Ia adalah kematian samada dengan pembunuhan atau barah. Tidak ada yang berubah samada dengan Apache atau sakit jantung. Dan aku memilih Apache..” Bukti bahawa as-Syahid gembira dengan anugerah ini tergambar dari senyuman yang menguntum dari bibirnya dan darah yang terus mengalir setelah 24 jam beliau syahid yang menghamburkan bau harum kasturi. Semua yang hadir menziarahi jenazah as-syahid yang mulia melihat kebesaran Allah dan benarnya janji Allah dan Rasulnya. “Jangan kamu menyangka mereka yang mati syahid itu mati, bahkan mereka hidup dan diberi rezeki, hanya kamu tidak mengetahuinya.”
Pendirian As-Syahid Abdul Aziz Rantisi terhadap perjuangan, cintanya terhadap tanah-airnya bumi Palestin dan Baitul Maqdis yang suci telah sedia kita maklumi. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk jihad dan untuk al-Quds. Inilah yang digambarkan oleh isteri as-syahid Ummu Muhammad, beliau adalah gambaran ayat Allah ‘Sesungguhnya tidak dijadikan manusia dan jin melainkan untuk menyembah Dia.’ Sebagaimana juga as-Syahid syeikh Ahmad Yasin yang mendahului beliau, Israel tidak pernah merasa aman dengan beliau yang tidak pernah mengenal erti mengalah dan lemah. Tidak seperti pemimpin-pemimpin Palestin secular yang siap untuk menggadaikan prinsip dan tanah air atas nama rundingan damai, As-Syahid Abdul Aziz Rantisi tidak pernah berganjak dari keyakinan bahawa bumi Palestin tidak mungkin ditukar ganti dengan apapun. Pilihan yang ada pada Israel hanya satu iaitu keluar dari bumi Palestin yang mereka jajah dan kembalikan hak rakyat Palestin yang mereka rampas. Jika mereka gagal untuk melakukan ini maka bersedialah untuk berhadapan dengan api jihad yang akan terus bersemarak membakar jiwa-jiwa para mukmin sehingga akhir. Hasrat Zionis untuk melihat lumpuhnya HAMAS dengan terbunuhnya dua pemimpin utama dalam selang 4 minggu meleset sama sekali. Bahkan kematian dua tokoh ini menyuburkan lagi jihad di bumi Palestin dan kini setelah enam tahun kedua mereka meninggalkan kita, Palestin terus berdiri teguh berhadapan dengan segala macam kekuatan yang ditalakan dunia ke atas mereka. Bukan sahaja mereka diperangi oleh senjata-senjata terkini bahkan mereka dikepung dan di kelilingi oleh tembok-tembok kematian serta dikhianati pula oleh saudara-saudara seagama yang bersekongkol dengan musuh-musuh untuk mencengkam Gaza dan Tanah suci al-Quds. Inilah karamah yang terbit dari kehebatan as-syahid Syeikh Ahmad Yassin dan as-Syahid Dr Abdul Aziz Rantisi.
‘Di belakang seorang lelaki yang agung pastinya seorang wanita yang mulia’, demikianlah ungkapan yang disebut kepada isterinya Ummu Muhammad. Namun Ummu Muhammad segera menyanggah kata-kata ini. Sebaliknya beliau memuliakan ibu as-syahid yang mana di atas didikan kemuliaan dan kehebatan dari almarhumah ibunyalah lahir as-syahid Abdul Aziz Rantisi. Beliau digambarkan oleh isterinya sebagai seorang suami, ayah dan datuk yang bukan sahaja melimpah dengan kasih-sayangnya terhadap isteri, anak-anak dan cucu-cucu bahkan kasih-sayang itu akan segera diluahkan sebaik sahaja ada ruang dan kesempatan. Bahkan ketika dikelilingi oleh tugasan yang banyak termasuk ketika melayan para tetamu dan wartawan beliau akan berhenti sebentar untuk menegur anak-anaknya dengan penuh kemesraan. Lantaran itu tidak seorangpun dari anak-anaknya dan cucu-cucu (14 orang semuanya) yang tidak merasakan kemesraan ayah dan datuk mereka sehingga mereka semua bercita-cita untuk mengikuti jejak langkah as-syahid dalam perjuangan.
Kelembutan as-syahid terhadap keluarga digambarkan oleh Ummu Muhammad dalam satu pengalaman di mana beliau tersinggung peti televisyen sehingga pecah skrinnya. Beliau begitu bimbang kerana sekatan ekonomi tidak memungkinkan mereka menggantikan TV yang pecah itu. Tetapi as-Syahid yang melihat kebimbangan Ummu Muhammad telah memujuk beliau dan berkata “Qadarallah maa syafaa’a fa’al” (Setiap sesuatu itu ada tempoh akhirnya). Semuga contoh-contoh kecil dari tokoh besar ini membekas di hati kita semua dan menjadikan kita berjiwa besar dan tidak terikat dengan dunia. Sesungguhnya membebaskan diri dari kesempitan dunia lah yang menjadikan seseorang itu mendambakan kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Ketegasannya di dalam perjuangan tidak dipersoalkan. Sewaktu as-Syahid Abdul Aziz Rantisi diusir bersama 416 oarng pejuang oleh Israel di selatan Lubnan pada tahun 1992, beliau didatangi oleh seorang wartawan media barat mengajukan soalan ‘Kenapa HAMAS enggan iktiraf Israel’. Jawapan yang diberikan oleh as-Syahid Abdul Aziz Rantisi meninggalkan wartawan tersebut sendiri kebibungan. Israel yang mana? Israel 1948? Atau Israel 1967? Atau Israel 1981? Atau Israel 1993? Atau Israel 2000? Hakikatnya Israel adalah entiti palsu yang tidak punya sebarang sempadan yang hakiki. Bagaimana mengiktiraf sebuah Negara haram yang tidak punya sebarang ketentuan sempadan kerana ia didirikan di atas Negara orang lain yang dirampok dan dirampas semaunya dan sekehendak hati mereka. Lantaran itu as-Syahid Abdul Aziz Rantisi berikrar “Israel tidak akan mengenal keamanan, kami akan memerangi mereka sehingga Palestin dibebaskan, dibebaskan seluruhnya.”
Inilah gambaran orang-orang beriman yang digambarkan oleh Allah SWT ‘… Mereka kasih kepada Allah dan Allah kasih kepada mereka, mereka berkasih sayang sesame mukmin (izillah alal mu’mimin) dan tegas terhadap golongan kafir (a’izatul alal kafirin), mereka berjihad pada jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang-orang yang mencela…”
As-syahid Abdul Aziz Rantisi dilahirkan pada 23 Oktober 1947 berhampiran Jaffa (Yaffa) dan syahid pada 17 April 2004.
Dr Hafidzi Mohd Noor
Pengarah PACE
Sumber: http://lambaian-islah.blogspot.com/2010/04/pada-17-april-2004-pulanglah-seorang.html

Jogging Tarbawi...Menafaatkan semua peluang yang ada

Assalamualaikum wt. Pagi tadi saya sempat beriadah bersama anak saya lepasan SPM. Kami jogging di padang Majlis Daerah Ketereh.Seronok bila dapat luangkan masa bersama anak remaja. Kami boleh bersembang, bertukar-tukar fikiran. Pada mulanya dia lari laju. Saya berlari perlahan saja. maklumlah usia dah separuh abad, mana mampu lari laju.Pada round ke 2 mengelilingi padang, dia dah masuk round ke 3.

Saya dah keletihan. Kami berjalan sambil berbual. Saya tahu dia masih mampu berlari, tapi mungkin dia saja mahu bersembang dengan saya.

" Ayah...kalau kita lari laju di peringkat awal tentu cepat terasa penat ye..?,"

" Betul Am..." jawab saya ringkas.

" Kadang-kadang berhenti dan keluar padang kerana kepenatan..walaupun tidak mencapai target yang kita hajatkan..." Sambungnya lagi...

Saya diam saja, Menarik persoalan tu,namun saya tak dapat menyelami perasaannya.

"Am rasa kalau kita lari konsisten walaupun tak laju, InsyaAllah kita tentu sampai ke matlamat kita"

"Kenapa Am cakap gitu..?

" Am fikir kalau kita laksanakan kerja dakwah dalam keadaan terlalu bersemangat sangat dan gopoh di peringkat awal mungkin kita cepat give up"

Alangkah seronoknya hati saya, bila dia menyebut perkataan "kerja dakwah". Saya tak menyangka dalam kami sama-sama berjogging, persoalan itu berligar didalam kepalanya.

" Kenapa pulak give up "

" Ye lah...kita buat kerja teruk-teruk, mungkin  kita gagal atau orang lain tak hargai kerja kita"

" So...Am nak buat macam mana? " saya kemukakan persoalan.

" Itulah pentingnya tarbiyah, kalau tarbiyah tak berjalan, tentu kita cepat keletihan. Bagi Am..biarlah Am berlari perlahan asalkan konsisten, yang penting sampai ke garisan penamat"

"Ayah setuju, sebab tu lah Am, kita perlu duduk dalam tarbiyah, selalu bersama dengan sahabat"

" Itulah yang Am bimbang kalau masuk U, jauh dengan sahabat...." tambahnya lagi

" InsyaAllah, sekarang ini kita boleh berhubung dengan banyak cara.Kita kenalah bijak memenafaatkannya"

Kemudian, kami berlari bersama-sama sehingga habis round  ke 4 (Dia tamat round ke 5)


" Am...tak salah kita lari laju diperingkat awal, sebab mungkin kita rasa kita punya tenaga yang kuat.Tapi yang penting bila kita keletihan, kita boleh berjalan kaki, namun sebagai pejuang kita jangan sekali berhenti atau keluar dari padang. Perjalanan kena diteruskan, bila kita bertenaga, kita teruskan larian kita, begitu juga dalam amal islami, kita haruslah istiqamah diatas yang Islam"

Dia tersenyum puas. Hati saya cukup seronok pagi itu. Dapat bermesra dengan anak sendiri,dapat memahami perasaannya, bukan senang nak jogging bersama. Betullah kata sahabat saya Saudara Rosdi Baharom (seorang pakar motivasi keluarga) Dia selalu kata " Kita perlu selalu memperbaharui taaruf kita bersama isteri dan anak-anak kita , adakalanya kita masih belum kenal sepenuhnya anak dan isteri kita"

"Ya Allah Engkau kurniakan kepada kami anak-anak yang soleh yang membahagiakan hidup kami ,Ameen."

dmar

" YA UMMU WAFA, ISTANA KITA MENANTI DI SYORGA"

Assalamualaikum sahabat-sahabat yang di kasihi. Semoga Allah sentiasa membimbing kita, mendidik jiwa-jiwa kita untuk terus tunduk dan patuh akan ajaran-ajaranNya, menjalin perasaan kita dengan penuh rasa cinta demi untuk menjunjung tinggi panji-panjiNya.Di sini saya catatkan kembali beberapa mutiara indah hasil tulisan Sdr Muhammad Lili Nur Aulia didalam bukunya yang bertajuk "CINTA DI RUMAH HASSAN AL BANNA", hasil sebuah PENGORBANAN

                    " YA UMMU WAFA, ISTANA KITA MENANTI DI SYORGA"
[ Suasana keluarga sangat jelas menjamin perkembangan jiwa anak dengan baik. Suasana keluarga yang penuh dengan kasihsayang, penuh perhatian dan keprihatinan akan menyebabkan anggota keluarga saling hormat dan saling menghargai diantara satu sama lain.Suasana persekitaran (biah) yang soleh lebih mudah memberi kesan kepada perilaku anak.

            Thana, puteri Hassan Al Banna mengatakan , " Subhanallah, setelah aku kini berkeluarga, maka ayahkulah yang menjadi contoh yang sangat baik dalam hal pengorbanan, Kerananya aku sangat yakin sekali dengan  dakwah yang disampaikan oleh ayah. Ayah tidak perlu mengatakan apapun, tapi kecintaanku pada dakwahnya begitu kuat sampai setelah ayah wafat, para Ikhwan yang telah dibebaskan dari penjara datang kepada keluarga kami mengucapkan salam. Umumnya mereka datang kepada kami dengan selalu membawa makanan, dan itu sangat  membahagiakan ibu"

         Thana melanjutkan, " Ketika kami berpindah ke Kaherah, mereka menyewa sebuah pejabat untuk digunakan sebagai pejabat Ikhwan, ketika itu ibu mengambil hampir semua perabot rumah untuk digunakan di Pejabat Ikhwan.. Ketika ayah  membangunkan Sekretariat Ikhwanul Muslimin, beliau malah meminta ayah membahawa sebagian besar perabot rumah agar sekretariat menjadi lebih lengkap dan sempurna. Ayahpun mengangkut kapet, meja-meja dan banyak lagi perabot lain ke sekretariat dan ibu kelihatan sangat gembira.
Dan dirumah kami sendiri tiada wang kecuali hanya sedikit. Dengan pengorbanan itu ibu kelihatan tidak merasa apa-apa dan dia kelihatan seolah-olah tidak memberi apa-apapun untuk dakwah ini dari perabot rumahnya " ]

Rumusan :
   1. Suasana (biah) yang soleh sangat penting dalam mendidik anak-anak.
   2. Ibubapa mesti sentiasa menunjukkan contoh yang baik kepada anak-anak
   3. Anak-anak dapat pelajaran yang besar diatas pengorbanan ibu dan ayah terutamanya didalam
       kerja-kerja  dakwah.
   4. Suami isteri yang soleh, yang duduk didalam suasana didikan (tarbiyah) mampu memberikan
       pengorbanan yang tinggi didalam amal islami, sehingga apa yang diinfakkan dijalan Allah itu jauh lebih di
       sukai dari apa yang ditinggalkan untuk dirinya.



DMAR

REHLAH TARBAWI MEMUPUK RASA UKHUWAH

Assalamualaikum sahabat-sahabat yang di kasihi, salah satu dari jalan-jalan tarbiyah adalah Rehlah Tarbawi. Pada 31/03/10 (Rabu) Haluan Kelantan telah menganjurkan program ini di Sri Pantai,Melawi Bachok   Pertemuan dengan sahabat-sahabat adalah sesuatu yang  sungguh indah, ukhuwah yang di bina di atas jalan dakwah merupakan ikatan hati-hati yang berjanji setia untuk menegakkan deenNya. Oleh itu ia merupakan pertemuan yang istimewa. Suatu pertemuan yang luarbiasa. Pertemuan yang pemberbaharui semula taaruf yang telah terjalin sekian lama.

   Namun rehlah kali ini menjadi lebih indah kerana ia menjalinkan ikatan diantara golongan tua dengan golongan muda. Mereka adalah roh baru yang telah mulai merasai sentuhan tarbiyah. Semoga golongan ini akan terus mekar dan mewangi , berkembangan dan merancakkan lagi gelombang laungan dakwah ditanahair kita ,InsyaAllah.


Pertandingan trompah gergasi, gabungan generasi tua dan muda

Lebih banyak pertemuan , maka lebih mendalam taaruf kita. Ikatan kasihsayang merupakan elemen yang sangat penting didalam sebuah organisasi Islam. AsSyahid Imam Hassan Al Banna telah menitikberatkan keperluan pembinaan  ukhuwah setelah di bina kekuatan dan kesatuan aqidah.


Mesranya perbualan diantara Ust Mohd Noor dengan Ust Mohamad Senik. Generasi tua kaya dengan pengalaman, sementara generasi muda kaya dengan semangat.






BroHamzah, Akhie Irwan bersama remaja lepasan SPM






Hebatnya Haluanita.....main bowling buah nyior




          Ukhuwwah Fillah.....kerja yang payah menjadi mudah...Tugas yang berat menjadi ringan
               Walaupun badan derita menanggung beban dakwah, namun masih mampu
                      tersenyum.. ,  kerana hatinya bahagia berharapkan syorga Allah....






Puteri bongsu saya yang sentiasa setia dengan program Haluan terutama Kem Anak Soleh





Peserta termuda, Abdullah Mujahid anak Rabbani &Ukhtie Mumtazah. Pendedahan anak kepada suasana yang Islamik sangatlah penting walaupun diperingkat bayi. Semoga Allah akan
memilihnya sebagai pejuang Islam disuatu hari nanti.



Program kemuncak..mencari pasangan bahagia...pertandingan menyambut belon berisi air diantara pasangan suami isteri, Tn Hj Hassan dan Kak Mah dari Pasir Mas menjadi Johan.



Makan bersama didalam talam dengan penuh kemesraan dan kasihsayang



"Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berkumpul untuk mengasihiMu, bertemu untuk mematuhi perintahMu, bersatu untuk memikul beban dakwahMu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari'atMu, maka
Engkau pereratkanlah ikatannya.."



"Kekalkanlah kemesraan antara hati-hati ini akan jalanNya yang sebenar.Penuhkanlah (piala) hati-hati ini dengan cahaya RabbaniMu yang tidak kunjung malap.Lapangkanlah hati-hati ini dengan limpahan iman/keyakinan dan keindahan tawakkal kepadaMu.Hidup suburkan hati-hati ini dengan makrifat tentang Mu ..(Jika Engkau mentaqdirkan mati) maka matikanlah pemilik-pemilik hati ini sebagai syuhada dalam perjuangan agamaMu.Engkaulah sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong.."


DMAR










About Me

My Photo
Mohd Ariff B. Abd Rashid
Kota Bharu, Kelantan, Malaysia
Saya seorang GP, membuka klinik swasta (Klinik Ehsan) di Ketereh,Kota Bharu Kelantan
View my complete profile

Followers

Waktu

Mutiara Kata

"Kalian adalah umat yang beruntung kerana menjadi umat yang MEMILIH untuk bangkit berijhad, bukan umat yang TERPAKSA bangkit untuk berjihad. Kalian menjadi tangan yang di atas (memberi) bukan tangan yang dibawah (terpaksa menerima). Ganjaran di sisi Allah, sama seperti seolah-olah kalian sedang berjihad dihadapan Baitul Muqadis... Andainya Kalian mati tidak mustahil Allah masukkan Kalian bersama para syuhada..."
Sheikh Abu Bakar al Awawidah (Pejuang Palestin) Ketika Kunjungan Beliau Ke Malaysia Anjuran HALUANPalestin

Popular Posts

Haluan Tarbawi

There was an error in this gadget

Pesanan

Haluan Malaysia

Haluan Malaysia
Berakhlak, Mendidik & Berbakti

Tetamu

Featured Posts

...